Riwayat Raja Kretek dari Kota Kudus






Kota Kudus dikenal dengan Kota Kretek karena banyak pabrik rokok berdiri di kota ini. Satu di antara pemilik pabrik rokok di Kudus adalah M. Nitisemito. Pria kelahiran Kudus pemilik pabrik rokok Tjab Bal Tiga ini memiliki nama bocah: Roesdi. Ia lahir sekitar tahun 1874 (versi lain menyebut tahun 1863). 

Ayah Roesdi bernama Haji Soelaman, lurah desa Janggalan, Kudus. Awalnya  Haji Soelaiman berharap, saat dewasa, Roesdi jadi lurah seperti dirinya. Namun, Roesdi ternyata lebih berminat untuk berwiraswasta. Haji Soelaiman pun memilih mendukung minat anaknya itu. Bentuk dukungan itu bisa dilihat dari diberikannya modal untuk Roesdi merantau ke Malang.

Kiprah Nitisemito
Sejak umur 17 tahun, Roesdi  mulai merantau ke Malang berbekal kemampuan menjahit yang dimilikinya. Pada masa itu, kota Malang seringkali jadi perantauan orang Kudus, terutama yang berkemampuan menjahit. Karena persaingan pada bisnis ini ketat, Roesdi memutuskan pulang ke Kudus dan memulai usaha menjual minyak kelapa. Sayang, usahanya itu menemui kegagalan, bisnisnya pun gulung tikar. 

Ketidakberhasilan Roesdi pun berganti-ganti, mulai dari bisnis minyak kelapa, berdagang kerbau, pengusaha dokar atau delman, sampai suatu ketika ia melihat peluang dari fenomena pembuatan rokok klobot yang sedang tumbuh di kota Kudus.

Roesdi menikah dengan perempuan dari desa Singocandi, Nasilah. Setelah menikah, Roesdi mengubah namanya menjadi Mas Nitisemito (hlm 15). Dan mendirikan usaha warung kopi dan tembakau.

Di warung milik M. Nitisemito seringkali dijadikan tempat kongkow-kongkow para kusir dokar, dan nginang (menguyah daun sirih). Kebiasaan nginang ini membuat jengkel Nasilah karena warungnya jadi kotor oleh ampas sirih. 

Dari sinilah muncul ide menjual rokok klobot -racikan tembakau yang dicampur dengan cengkeh lalu kemudian dibungkus dengan klobot (daun jagung kering ) dan diikat dengan benang (hlm 20). Dan ternyata rokok klobot bikinan Nasilah digemari para kusir yang mampir ke warungnya. Ampas sirih dari nginang pun tak lagi jadi persoalan, karena para kusir beralih merokok.

Penulis buku ini, Erlangga Ibrahim dan Syahrizal Budi Putranto menduga, dalam membuat rokok klobot, Nitisemito terinspirasi dengan Roro Mendut yang hidup di abad-17 (hlm 20) dan juga Hadji Djamhari yang disebut-sebut sebagai penemu rokok kretek di Kudus (hlm 23). Sayang, itu hanya sebatas dugaan.

Masukan dan kritikan dari pembeli atas rokok klobot buatan Nasilah diperhatikan betul oleh Nitisemito. Kemudian usaha warung ini pun, lambat laun beranjak menjadi pabrik Tjab Bal Tiga. Kelak M. Nitisemito dikenal sebagai Raja Kretek karena usahanya ini.

Dalam masa kesuksesannya sebagai Raja Kretek, M. Nitisemito juga ikut serta dalam perjuangan pergerakan nasional. Diceritakan ia beberapa kali bertemu dengan Soekarno secara diam-diam di Villa milik Nitisemito di Salatiga, untuk memberikan dana bantuan. Hal ini dilakukan agar tidak dicurigai pemerintah Hindia Belanda.

Kedekatakan Soekarno dan M. Nitisemito, juga terlihat dari isi pidato Soekarno pada 1 Juni 1945, yang menyebut nama M. Nitisemito. “Sebagaimana tadi telah saya katakan, kita mendirikan negara Indonesia yang kita semua harus mendukungnya. Semua buat semua! bukan Kristen buat Indonesia, bukan golongan Islam buat Indonesia, bukan Van Eck buat Indonesia, bukan Nitisemito yang kaya buat Indonesia, tetapi Indonesia buat Indonesia –semua buat semua!” (hlm 60).

Keputusan yang Menentukan
Semakin tinggi pohon, pun semakin kencang angin yang menerjangnya. Dalam riwayat Nitisemito, angin itu berupa intrik keluarga, yang pada gilirannya menciptakan bencana pada perusahaan rokok Tjab Bal Tiga (hlm 67). Ini bermula dari usulan putri Nitisemito, Nahari, yang membujuk agar putranya Akwan memimpin pabrik Tjab Bal Tiga.

Nitisemito semula ragu memutuskan, sebab Akwan belum berumur 20 tahun.  Namun karena itu usulan putrinya, yang belakangan diketahui Nitisemito juga didukung istrinya, Nasilah. Nitisemto pun memutuskan Akwan menjadi pemimpin di pabrik Tjab Bal Tiga. Keputusan ini, pada akhirnya mengawali kehancuran bisnisnya.

Keputusan pertama Akwan saat memimpin pabrik rokok Tjab Bal Tiga adalah merekut seorang Belanda yang merupakan mantan pegawai pajak pemerintah kolonial untuk mengelola perusahaan. Keputusan yang memberi peluang pemerintah Hindia Belanda membuktikan kecurigaan atas Nitsemito yang telah mendanai perjuangan tokoh-tokoh pergeraan nasional, seperti Bung Karno. Akwan tidak tahu, kalau Nitisemito sudah lama dicurigai Belanda.

Buku ini sekilas tidak jauh beda dengan buku Raja Kretek Nitisemito (1980) karya Alex Soemadji Nitisemito atau cucu M. Nitisemito. Hal ini berakibat tidak banyak data baru terkait M. Nitisemito yang disajikan buku ini. Sisi positif hadirnya buku ini barangkali adalah mengingatkan kita pada sosok Raja Kretek yang tak banyak diketahui –sosok yang terlupakan.

Terkait penampilan foto-foto pendukung dalam buku, penulis kurang rinci dalam penyebutan sumber dan keterangan foto. Misalnya penampilan foto kantor perusahaan rokok Tjab Teboe & Cengkeh milik H. Moeslich (hlm 69). Akan lebih rinci jika disebutkan juga lokasi bangunan tersebut, sumber foto, dan keadaan bangunan tersebut sekarang.

Selain itu, tidak adanya penjelasan profil penulis dalam buku ini memberi kesan aneh. Dan menimbulkan pertanyaan dalam benak pembaca; mengapa tidak dicantumkan profil penulis?

Terlepas dari itu, kita butuh buku-buku semacam ini agar generasi hari ini tahu kisah generasi sebelumnya. Riwayat Raja Kretek, M. Nitisemito memang berakhir dengan kegagalan. Meski begitu, membaca riwayatnya, mengingatkan pembaca agar belajar dari pengalaman orang lain. Kita semua sepakat pengalaman adalah guru yang paling baik, bukan?(*) 

Arif Rohman
 Kudus, 14 Desember 2015

Judul : Raja Kretek M. Nitisemito; Pengusaha Pribumi Terkaya Sebelum Kemerdekaan
Penulis : Erlanga Ibrahim & Syahrizal Budi Putranto
Cetakan : Pertama, September 2015
Penerbit : PT Batara Ahara Nusa
Tebal : vi+100 halaman


Postingan terkait:

2 Tanggapan untuk "Riwayat Raja Kretek dari Kota Kudus"

  1. Assalamualaikum wr.wb mohon maaf kepada teman teman jika postingan saya mengganggu anda namun apa yang saya tulis ini adalah kisah nyata dari saya dan kini saya sangat berterimah kasih banyak kepada Mbah Rawa Gumpala atas bantuan pesugihan putihnya tampa tumbal yang sebesar 15m kini kehidupa saya bersama keluarga sudah sangat jauh lebih baik dari sebelumnya,,saya sekaran bisa menjalanka usaha saya lagi seperti dahulu dan mudah mudahan usaha saya ini bisa sukses kembali dan bermanfaat juga bagi orang lain,,ini semua berkat bantuan Mbah Rawa Gumpala dan ucapa beliau tidak bisa diragukan lagi,bagi teman teman yang ingin dibantuh seperti saya dengan pesugihan putih bisa anda hubungi di no 085 316 106 111 jangan anda ragu untuk menghubuni beliau karna saya sudah membuktikannya sendiri,karna Mbah tidak sama seperti dukun yang lain yang menghabiskan uang saja dan tidak ada bukti sedankan kalau beliau semuanya terbukti nyata dan sangat dipercay,,ini unkapan kisah nyata dari saya pak Rudi di semarang.Untuk lebih lenkapnya silahkan buka blok Mbah di ��PESUGIHAN PUTIH TANPA TUMBAL��

    ReplyDelete
  2. Maaf kalau boleh tahu buku ini dijual di mana ya? Saya mau cari

    ReplyDelete